Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ekonomi Sulit, Nasi Aking Menjadi Pilihan

* Terima Raskin Hanya 4 Kg, Warga Dukuh Ceplik Mulai Makan Nasi Aking

PEMALANG - Kondisi ekonomi dan melonjaknya harga sembako memaksa sebagian warga Dukuh Ceplik RT 6 RW 4 Kelurahan Pelutan, Kecamatan/ Kabupaten Pemalang, mengkonsumsi nasi aking.

Walaupun mereka tidak mengkonsumsi nasi aking setiap hari, namun kondisi tersebut menggambarkan banyak masyarakat Pemalang yang masih hidup di bawah garis kemiskinan.
Menurut Markamah (45) dan Waryuni (50) warga Dukuh Ceplik, meerka mengkonsumsi nasi aking sejak beberapa tahun lalu, tetapi tidak setiap hari. Nasi sisa tersebut dikonsumsi saat tak memiliki uang untuk membeli beras.

Pendapatan suaminya antara Rp 5.000 -Rp 10.000/hari sebagai tukang becak, memaksa mereka lebih sering mengkonsumsi nasi aking.
”Akhir-akhir ini, saya lebih sering makan nasi aking. Sebab, harga sembako sangat mahal,” katanya.

Keduanya meceritakan, nasi basi itu diperolehnya dari sisa makanan atau membeli di warung. Sebelum dikonsumsi, nasi dijemur dan direndam selama 10 menit. Setelah itu, nasi dicuci hingga bersih dan baru dimasak. Biasanya, dia menyajikan nasi aking dengan ampas kepala dan garam.

”Terkadang nasi aking dimakan dengan ikan asin,” terangnya.
Anak Markamah, Dini (9) mengaku kerap kali memakan nasi aking. Dia lebih suka makan nasi aking dengan ampas kelapa. ”Lebih gurih kalau makan sama ampas kelapa,” katanya.
Tidak Merata Ketua RT 6 RW 4 Dusun Ceplik Cahyo menjelaskan, jumlah kepala keluarga (KK) di wilayahnya sebanyak 73. Dari jumlah itu sebagian besar pernah mengonsumsi nasi aking, termasuk dirinya. Bahkan, dia memperkirakan 90 persen warga di dukuh yang dikenal dengan BTN Ceplik hidup di bawah garis kemiskinan. Mayoritas warga bekerja sebagai tukang becak dan buruh serabutan.

”Kami mendapatkan raskin hanya 16 kantong. Setiap kantong berisikan 15 kg beras. Distribusi raskin dilakukan dengan dibagi rata. Setiap KK hanya mendapatkan 4 kg beras. Jumlah beras yang diterima warga tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan selama sebulan,”ujarnya.
Dia menambahkan, selama ini dukuhnya selalu dianaktirikan. Bantuan pemerintah hanya sebatas pemberian raskin. Sementara program PNPM dari pemerintah pusat juga tidak sampai di dukuhnya. Kondisi itu membuat warganya makin terpuruk.

Bantuan terkendala status tanah mereka yang bukan hak milik. Tanah itu milik PG Sumberharjo Pemalang. ”Kami juga warga Indonesia, mohon pemerintah bisa memperhatikan kondisi ini,” tandasnya.



http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/08/05/119289/Warga-Dukuh-Ceplik-Mulai-Makan-Aking

Post a Comment for "Ekonomi Sulit, Nasi Aking Menjadi Pilihan"