Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Agro Wisata Sumugih Belum Termanfaatkan

PEPATAH mengatakan Gajah di pelupuk mata tidak tampak, semut di seberang lautan nampak dengan jelas. Itulah gambaran orang Pemalang, lebih-lebih remajanya yang tidak menyadari di daerahnya memiliki agro wisata Sumugih yang ideal dan dapat dijadikan tourism education. Hanya sayang, belum dimanfaatkan.

Kata Sumugih dalam bahasa Jawa artinya kaya wong sugih atau berlagak seperti kaya. Pemahaman ini tentu saja tidak benar, atau barangkali pada zaman dahulu ketika tempat itu dipilih untuk perkebunan sekitar 1878, yang memilih tempat itu "diejek" seperti orang kaya saja. Oleh sebab itu menurut pemahaman penulis, arti sumugih pada hakikatnya di sana banyak orang yang berkecukupan.

Sumugih ternyata nama dari PT Perkebunan Teh milik negara, yang terletak di jalan raya antara Moga-Pulosari. Dari kota Moga hanya 2 km, dan dari kota Pemalang hanya 42 km, jalannya mulus, yakni jalur Pemalang-Randudongkal-Moga-Pulosari, dan mudah dicapai baik dengan angkutan umum, maupun bus-bus pariwisata.

PT Perkebunan Sumugih yang berada di lereng Gunung Slamet bagian utara itu, memiliki kelebihan bila dibandingkan dengan lokasi PT Perkebunan Teh Tambi, di Kabupaten Wonosobo, PT Perkebunan Teh Jolotigo di Kabupaten Pekalongan, dan PT Perkebunan Teh Kaligua di Kabupaten Tegal.

Dikatakan memiliki kelebihan, sebab letak PT Perkebunan Sumugih sangat mudah dicapai terletak di jalur jalan raya Moga-Pulosari yang jalannya halus dan mulus. Luas perkebunan itu kurang-lebih 400 ha, fasilitasnya juga seperti yang ada di PT Perkebunan Tambi, dan lain-lainnya, yang sudah cukup memadai.

Di sana sudah ada mess yang dapat dijadikan penginapan, sekarang ada 17 kamar, ada aula, lapangan tenis, lapangan voli, lapangan sepak bola, tempat camping, dan pabriknya dengan jalan raya hanya beberapa meter (sekitar 200 meter saja). Pemandangan alam di sana juga indah tidak kalah dengan Tambi, Jolotigo, dan sebagainya.

Udara sejuk, suasana nyaman, aman, dari jauh tampak Gunung Slamet nan indah. Sayang potensi seperti itu, belum banyak dimanfaatkan untuk kegiatan agrowisata khususnya oleh masyarakat Pemalang. Para remaja, para pejabat, PKK, para siswa SD, SLTP, SLTA, seperti belum tahu bahwa di daerahnya ada potensi agrowisata yang baik, indah, sejuk, dan nyaman. Kalau potensi itu dikembangkan bersama Pemda Kabupaten Pemalang, maka dapat saja semua kegiatan apakah itu rapat-rapat, rekreasi keluarga, studi tur siswa, digalakkan ke sana. Apalagi kalau digabungkan dengan Pesanggrahan Moga yang memiliki kolam renang alami, sebab jaraknya hanya 1,5 km, maka potensi itu akan saling mengisi.

Perlu Kebijakan

Direktur PT Perkebunan Sumugih, Ir Adi mengharapkan agar perkebunan yang luas, indah, terpelihara, mudah dicapai itu dimanfaatkan untuk agrowisata. Di sana memang sudah ada papan nama Agro Wisata Sumugih, akan tetapi penulis baru tahu setelah melihat ke dalam, menjadi sadar bahwa PT Perkebunan Sumugih patut dikembangkan jadi agrowisata, sebab akan menjadi salah satu kebanggaan atraksi wisata di Kabupaten Pemalang.

Dari mimbar ini penulis mengimbau H Machroes SH, Bupati Pemalang yang enerjik dan simpatik itu untuk mengambil kebijakan, mengangkat PT Perkebunan Sumugih menjadi atraksi wisata agro sebelum segala sesuatu itu terlambat. Dasar permohonan ini dilandasi abad XXI ini adalah abad pariwisata. Jalur pantura di mana Kabupaten Pemalang terletak adalah jalur potensial, asesibilitas penunjang sudah cukup baik. Jalur kereta api eksekutif dapat dimanfaatkan asal untuk pariwisata, PT KAI akan membantu, misalnya berhenti 2 menit untuk menurunkan wisatawan. Sebab KA Argo Muria misalnya dari Jakarta pukul 06.30, dan sampai Pemalang kira-kira pukul 10.00, dapat dimanfaatkan untuk peminat dari Kota Jakarta.

Langkah yang harus diambil

Sekarang tinggal kita, yaitu bagaimana actionnya. Memang untuk ini dibutuhkan kreativitas dan dukungan Bupati serta masyarakat Pemalang. Di Pemalang banyak atraksi wisata yang dapat dipadukan dan untuk merealisasikan gagasan itu, perlu diambil langkah-langkah sesuai kebijakan yang diambil Bupati Pemalang. Misalnya, dengan gerakan wisata remaja. Caranya Bupati dapat memerintahkan Dinas Pariwisata dan Dinas Pendidikan Nasional untuk menyusun program, yaitu memobilisasikan pelajar di saat liburan atau di saat kegiatan studi tur, sebagai ajang tourism education. Contoh: Siswa SD, SLTP, SLTA Kecamatan Ulujami, Comal, Bodeh, Petarukan, Taman, dan Pemalang, disajikan atraksi religius, menyaksikan makam-makam bupati Pemalang di belakang masjid, meninjau cultural heritage (rumah dinas bupati, Pabrik Gula Sumberharjo),

kembali ke wisata religius (makam Pandan Wangi di Bantarbolang), ke pesanggrahan Moga mandi air alam, PT Perkebunan Sumugih dan bermalam.

Bagi anak-anak Watukumpul, Belik, Moga, Warungpring, dapat mengawali dari PT Perkebunan Sumugih, terus turun melihat atraksi religius, cultural heritage, diterima bupati di pendapa, diakhiri di Widuri (kalau perlu bermalam di Pemalang, baik di hotel-hotel atau mungkin ditampung di Widuri).

Gerakan lain yang dapat dilakukan adalah gerakan ibu-ibu PKK, Gerakan pejabat libur dan masih banyak lagi yang dapat digerakkan. Penulis yakin apabila digarap dengan baik, apalagi Pak Machroes SH turun tangan, agrowisata Sumugih akan sukses.

Untuk melangkah ke sana, bupati bersama PT Perkebunan Sumugih perlu mengundang travel writer (baik wartawan dari Jawa Tengah maupun dari Jakarta, mengundang travel biro dan lain sebagainya). Penulis yang kebetulan Ketua Dewan Pariwisata Jawa Tengah, siap membantu. Hal lain adalah perlu temu bisnis di Jakarta

Langkah ini memang mahal, tetapi hasilnya efektif. Temu bisnis di Jakarta dapat mencapai dua sasaran, mencari investor, tetapi juga untuk promosi. Di sana dapat dihadirkan para biro perjalanan, pengusaha yang sukses dari Pemalang atau lainnya, dan juga mengundang pemodal lainnya. (Soetomo WE-90)

Sumber: SM

Post a Comment for "Agro Wisata Sumugih Belum Termanfaatkan"