Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Memahami Filosofi Dibalik Tradisi "Petan"

Memahami Filosofi Dibalik Tradisi "Petan"

Infomoga.com - Petan atau istilah lain "Dhidhis" adalah salah satu tradisi yang dari dulu sering kita jumpai, terutama dikalangan masyarakat pedesaan.

Tradisi petan memang sangat unik. Saat para perempuan bergerombol mencari kutu, akan ada keakraban yang terjalin.

Kebiasaan ini juga menjadi sarana tepat saling berbagi bermacam Informasi dari soal kebutuhan hidup hingga kehidupan sosial.

Baca juga: Tradisi Prepegan, Keramaian Pasar Moga Menjelang Lebaran

Mereka biasanya membicarakan tentang hal-hal sederhana, mulai dari harga cabai diluar batas, sampai kenaikan harga beras.

Kadang, salah satu ekses negatif tradisi petan, para pelaku tergiring melakukan "ghibah" atau bergunjing permasalahan orang lain.

Terlepas dari konotasi buruk tersebut, Tradisi petan memiliki peran penting dalam membangun interaksi sosial masyarakat terutama dalam lingkup keluarga.

Memahami Filosofi Dibalik Tradisi "Petan"
Coba perhatikan, saat seorang Ibu asyik mencari kutu dikepala anaknya. Sesekali terdengar tawa ceria pecah diantara mereka. Lalu ibunya dengan kasih sayang menyampaikan beragam nasehat.

Dari soal pelajaran sekolah sampai norma-norma kehidupan dan tidak ketinggalan nasehat agama.

Dan nasehat-nasehat itu memang sangat efektif karena disampaikan dalam keadaan yang santai dan posisi nyaman seperti saat petanan.

Petan, adalah pekerjaan yang sangat sulit. Dibutuhkan ketelatenan dan ketajaman intuisi menyibak helai demi helai rambut untuk mencari kutu (tuma), kor (anak kutu) atau sekedar lingsa (telur kutu).

Baca juga: Dugdag, Tradisi yang Mulai Jarang Ditemui

Saat menemukan kutu diperlukan kesigapan serta gerak cepat agar kutu tidak keburu bersembunyi.

Tradisi petan ini juga mengilhami lahirnya nasihat Jawa yang melegenda "Aja seneng metani alane wong liya,"

Maksudnya, jangan mencari-cari keburukan dan kesalahan orang lain seperti mencari kutu dirambut kepala yang kadang tidak menemukan kutu sama sekali atau malah tidak menemukan kesalahan orang tersebut hanya ingin merendahkannya tapi tidak ditemukan pada akhirnya yang muncul adalah fitnah semata.

Post a Comment for "Memahami Filosofi Dibalik Tradisi "Petan""