Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Curah Hujan Tinggi, Petani Sayur Mayur Merugi

Tanama Kubis Rusak (Blogspot)
Mogaraya, Clekatakan- Dampak cuaca ekstrem yang melanda Pemalang, Jawa Tengah, akhir-akhir ini mengakibatkan tanaman sayuran rusak dan mati. Petani di wilayah lereng Gunung Slamet jadi rugi hingga puluhan juta rupiah.

Surahman, petani di Desa Clekatakan, mengatakan harga jual menurun. Ia pun menanggung rugi Rp20 juta untuk satu hektare lahan. Sebab hasil penjualan tak menutup biaya perawatan tanaman. 

"Kemarin saya tanam tomat, rugi sampai Rp20 juta. Karena diserang hama jadi hasilnya tidak maksimal, untuk satu hektar lahan saya hanya bisa panen sekitar 1-2 ton, padahal kalau lagi bagus bisa sampai 7 ton, ditambah lagi sekarang harga tomat turun,” kata Surahman, seperti dirilis Metrotvnews.com (12/10/2016).

Normalnya untuk harga tomat Rp8 ribu per Kg. Namun saat ini harganya turun menjadi Rp 3 ribu/kg. Selain tomat, kubis juga mengalami penurunan harga paling sigifikan. Saat ini kubis hanya laku terjual Rp500/kg, padahal harga normalnya adalah Rp6 ribu/kg.

Harga cabai merah juga mengalami penurunan. Semula Rp18 ribu/kg, harganya kini turun menjadi Rp10 ribu/kg.

“Kalau kubis harganya anjlok, makanya mending tidak dipanen saja daripada rugi,” tambahnya.

Sementara itu Kepala Desa Clekatakan, Sutrisno,  menuturkan selain penurunan harga jual komoditas sayuran, hasil panen petani di desanya juga mengalami penurunan kualitas dampak dari cuaca buruk.

“Sebagian besar petani yang justru membiarkan tanaman sayurnya membusuk di ladang, karena mereka takut merugi jika harus dipanen. Kalau di total, kerugian mereka hampir 70 persen,” paparnya.

Para petani kini hanya bisa pasrah sambil menunggu musim tanam berikutnya, pasalnya dengan cuaca yang tak menentu seperti sekarang ini tanaman sayur mayur akan mudah mati.

Post a Comment for "Curah Hujan Tinggi, Petani Sayur Mayur Merugi"